Tuesday, August 19, 2008

Cerpenku (yang niat baca bisa di copy buat dibaca dirumah) kritik dan saran yah!


I'm Sorry Papa

"Non, bangun non. Udah pagi!”
suara Bibi Juli sang pembantu
dirumahku itu, membuatku kaget
dan terbangun. Saat membuka
mata, kulihat seisi ruang kamarku
telah terang benderang karena gorden-gorden sudah dibuka. Aku
menggeliat diatas tempat tidur dan
mengusap-usap mataku menikmati
tidurku semalam. Tak disangka
aku tidur nyenyak, biasanya selalu
dibayangi hal yang membuatku tak bisa tidur. Dengan baju piamaku, akupun beranjak dari tempat tidur berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Kemudian aku berjalan ke lantai bawah.
“Sya, ko’ nggak mandi?” Tanya ka’ Ahmad yang sedang sarapan di meja makan.
“Nggak ah, Entar aja! Inikan hari minggu!” jawabku sembari duduk di kursi meja makan tepatnya disamping kakakku, Ahmad.
“Kok rapi amat? Mau kemana?” tanyaku lagi sembari memasukkan roti yang sudah kuberi selai kedalam rongga mulutku.
“Mau ngerjain sesuatu di kampus!”
“Ko’ pagi banget sih?” tanyaku makin menggebu-gebu.
“Mo tau aja…. We…!” jawab ka’ Ahmad sembari menjulurkan lidahnya, tanda mengejekku. Yup, saat ini waktu sedang menunjukkan pukul 7 tepat. Entah apa tugas kakakku itu yang jelas cukup penting. Tidak biasanya dia bangun sepagi itu apalagi ini hari minggu. Biasanya dia kuliah siang menjelang sore, jamnya pun tak tentu. Sudahlah, aku tak mau memikirkan dia. Karena itu bukan tugasku, tugasku adalah belajar, mengerjakan tugas rumah dari guruku, dan berdo’a untuk kedua orang tuaku. Maklumlah anak SMA.
“Ya udah! Kakak pergi dulu ya! Jangan lupa mandi!” kata kakakku sembari mengambil tas berisi laptop dan kepentingan lain yang ada disampingnya. Kemudian menempelkan bibirnya diatas keningku.
“Jaga rumah dan Bibi Juli ya!” sambungnya, menuju ke pintu luar, aku hanya tersenyum mendengar itu.
“Hati-hati ya kak!” sahutku. Kemudian terdengar suara mesin mobil, dan lama kelamaan suara itu semakin lenyap dan lenyap. Sekarang disini hanya ada aku dan Bibi Juli.
“Bi, tadi malam Ayah nggak nelpon ya?” tanyaku kepada Bibi Juli yang sedang membereskan meja makan.
“Nggak ada non! Mungkin sibuk banget kali!” jawab Bi Juli sembari membawa piring kotor ke dalam. Perasaan sedih dan kesal berkecamuk dihatiku. Ayah yang biasanya setiap malam minggu menghubungiku dan kakakku, baru tadi malam tidak ada kabar. Seberapa penting sih pekerjaannya, sampai-sampai lupa kalau tadi malam ada jadwal untuk mengabari anaknya. Aku melamun sendirian di meja makan. Entah apalagi yang harus kulakukan supaya ayah mengerti bahwa aku sangat merindukannya. Rasanya aku ingin menangis sekencangnya agar semua orang tau bahwa aku adalah gadis yang kesepian tanpa kasih sayang dari orang tuaku. Seandainya ibu masih ada, mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini. ***
Jam sudah menunjukkan pukul 3 siang. Kakakku belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena aku tidak ada rencana, aku hanya berdiam diri di kamar sembari membuka laptopku dan bermain-main dengannya. Sebenarnya fasilitas kamarku cukup lengkap, tapi sekarang aku hanya butuh laptop kesayanganku.
Tak lama aku bermain, ada seseorang yang megetuk pintu kamarku.
‘tok, tok, tok’.
“Masuk aja, nggak dikunci ko’!” kataku tegas dan nyaring. Tetapi orang itu tetap saja mengetuk pintu
kembali, seakan tak mendengarku.
“Siapa sih… nggak…….” Ucapanku terhenti. Setelah membuka pintu, akupun terkejut.
“Happy birthday to you….. happy birthday Aisyah…….happy birthday… happy birthday… Aisyah…” Astaga! Aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Sekarang telah berdiri 3 sahabatku, Chacha, Lani, Putri, dan juga kak Ahmad yang sedang melantunkan nyanyian ulang tahun untukku. Kemudian akupun meniup lilin bertuliskan 17 tahun diatas kue yang dibawa oleh kak Ahmad. Merekapun masuk kedalam kamarku dan meletakkan kue itu di bawah.
“Selamat ulang tahun ya sayang!” kata kak Ahmad sembari menempelkan bibirnya lagi dikeningku.
“Iya, selamat ulang tahun ya Sya! Ini kado dariku” kata Chacha, sembari menyodorkan kado yang terbungkus rapi kehadapanku.
“Harus jadi anak yang tambah dewasa, jangan manja mulu!” nasehat Lani.
“Duh. . makasih banget ya! Aku nggak nyangka kalian ingat hari ulang tahunku, hampir aja aku lupa!”
“Apa aja sih yang dipikirin? Heran deh…!” Sahut Putri.
“Ya udah! Sekarang potong kuenya gih!” sambungnya. Akupun membagi kue itu untuk dimakan bersama. Ternyata kak Ahmad berbohong. Dia bukan pergi untuk kuliah, tapi menyiapkan segala sesuatunya dengan 3 sahabatku. Sisanya kak Ahmad mungkin mengerjakan tugas proposalnya. Tak terasa, kue tinggal setengah. Karena kami sudah kenyang kue dibiarkan disitu. Kamipun mengobrol panjang lebar, dan akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Time to go home for my friends, karena bagi mereka itu sudah cukup malam.
“Kami pulang ya Sya!” kata Lani mewakili semuanya, karena dia supirnya.
“Ya udah! Hati-hati ya.” Sembari mengantar mereka ke mobil.
“Dah sya!” kata Putri dari dalam mobil. Mobilpun lenyap dari pandangan. Aku masuk kedalam rumah sembari menutup dan mengunci pintu. Entah apa yang membuatku masih merasa belum puas hari ini. Tiba-tiba aku teringat oleh Ayah yang belum memberi kabar hingga saat ini. Akupun berlari menuju kamar kakakku yang berada di samping kamarku, tanpa mengetuk aku langsung masuk.
“Kak, nggak ada kabar dari Ayah? Hari ini kan hari ulang tahunku?” tanyaku sembari duduk disampingnya.
“Mmm. . . Ayah masih sibuk tuh, mungkin besok baru bisa pulang buat ngasih hadiah ke kamu!” jawab kak Ahmad yang asyik dengan laptopnya. Aku mulai melamun dan menitikkan air mata.
“Kenapa sih, ayah nggak pernah ngertiin aku!” kataku marah, sembari berlari keluar menuju kamarku. Karena kamarku tidak dikunci, kakakku masuk dengan mudah dan duduk disampingku. Aku masih menangis, posisiku tengkurap dengan kepala menghadap ke bantal. Kemudian aku menoleh ke tempat kakakku duduk.
“Kak! Aku nggak minta banyak dari ayah, aku cuma minta ayah bisa datang kesini untuk ngasih ucapan, dan aku pengen bisa meluk
ayah dan ibu dalam satu dekapan, itu aja ko’! kapan Ayah punya waktu untuk itu?” dengan nada yang tersendat karena menangis, aku berusaha berbicara jelas agar kakak mengerti ucapanku.
“Kakak ngerti ko’! kakak juga pengennya gitu, tapi mau gimana lagi Ayah nggak bisa diajak kompromi!” kakakku menjelaskan.

“Kamu juga harus ngerti kerjaan Ayah, kan Ayah kerja untuk kita!”
“Tapi bukan berarti ayah lupa pekerjaannya sebagai seorang Ayah!” kataku lagi, masih dengan tangisan.
***
Pagi ini terasa aneh bagiku, aku bangun kesiangan, dan harus dihukum di sekolah karena aku benar-benar lupa mengerjakan PRku. Oh no! hari yang sial. Belum lagi aku lupa membawa buku pelajaran matematika. Guru matematikaku memang galak, kalau tidak membawa bukunya maka harus berdiri di depan kelas selama jam pelajarannya. Terpaksa
aku berdiri menanggung malu. Akhirnya jam pelajaran berakhir, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Waktunya pulang! Huff… akhirnya penderitaanku berakhir juga! Pulang dengan ‘Mikura’ku (nama yang kubuat untuk mobil kesayanganku). Sesampainya di rumah ku dapati kakakku sedang duduk di sofa ruang tamu dan wajahnya ditutupi oleh jari jemari tangannya. Ada apa ini? Karena penasaran aku bertanya.
“Kak, kenapa?”
“Ayah……….” Sembari mengangkat wajahnya.
“Kenapa ayah?” Aku duduk disampingnya.
“Ayah kecelakaan Sya!” dengan nada yang berat kakak menjelaskan.
“Hah? Nggak…. Kakak pasti bohong, kakak bohong, kakak bohong kan?”
“Tenang Sya! Tenangkan dirimu, ayah tadi mau pulang cepat untuk ngasih surprise ke kamu sebelum kamu pulang, tapi… terjadi sesuatu di jalan…”
“Tapi ayahnya nggak apa-apa kan?”
“Nggak Sya! Ayah meninggal di tempat!” Mendengar itu aku langsung syok. Aku menangis sekencang yang aku bisa. Kakak memelukku dengan penuh harap, aku bisa menerima kenyataan. Tetapi aku tak bisa, aku tak bisa menerimanya. Ini semua salahku. Aku terlalu egois! Aku terlalu memaksakan kehendakku, aku ingin semua keinginanku dipenuhi! Dan karena aku juga semua ini terjadi. Ayah yang bekerja siang dan malam untuk kenyamananku, tapi aku selalu mengganggunya. Kenapa ini terjadi kepadaku? Sekarang aku tidak punya ayah dan ibu. Mereka sudah pergi, pergi untuk selama- lamanya. Tidak ada lagi kasih sayang yang dapat kurasakan selain kasih sayang yang diberikan oleh kakakku. Ayah maafkan aku.

Related Articles

0 komentar: